Garda NTT Desak Perusahaan Ojol Tertibkan Drivernya

SuataHeadlkne.com Jakarta – Masih terkait peristiwa pengeroyokan di kawasan Mangga Besar Jakarta Utara pada Selasa, (06/07/2021) yang dipicu oleh kesalapahaman, Genta Patriot Muda Nusa Tenggara Timur (GARDA NTT) menengarai ada provokasi yang menjadi penyebab terjadinya peristiwa pengeroyokan itu. Sebab dari beberapa video yang beredar, pengakuan dari para ojek grab yang berada di lokasi kejadian usai peristiwa itu, bahwa diduga ada salah paham antara pekerja leasing Victory dengan warga yang melintas di daerah itu. Bukan pekerja Victory dengan pihak ojol.

Namun kejadian itu meledak ketika ada provokasi dari sesama ojol yang datang belakangan dengan menebarkan narasi hoax bahwa ada penarikan motor secara paksa oleh pihak leasing Victory. Padahal narasi penarikan motor itu hanya kabar bohong yang sengaja dihemburkan.

Sayangnya, para driver ojol yang telah termakan hoax langsung melakukan pengeroyokan terhadap pekerja dan pengerusakan kantor leasing Victory yang ada di kawasan Mangga Besar tersebut.

Tim Advokasi Hukum GARDA NTT Onkar On Maninabi alias Beka telah memastikan kepada pihak korban pengeroyokan bahwa penyebab keributan itu bukan karena penarikan paksa kendaraan bermotor tetapi akibat kesalahpahaman dan hoax yang dihembuskan.

Menurut Beka, tindakan driver ojek online Grab yang main hakim sendiri akibat termakan hoax sudah memenuhi unsur pidana yaitu tertuang dalam KUHP pasal 170 dengan ancaman kurungan maksimal 5 tahun kurungan.

“Pasal 170 KUHP menjelaskan setiap pelaku yang melakukan perbuatan tindak pidana pengeroyokan secara terang-terangan diancam pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan”, ujar Beka, Rabu, (07/07/2021)

Dikatakannya, tindak pidana pengeroyokan tersebut telah memenuhi syarat- syarat sebagai perbuatan kejahatan yang bertentangan dengan Undang–Undang.

Karena itu ia menghimbau kepada komunitas ojek online untuk tidak melakukan perbuatan pelanggaran hukum atau melakukan pengeroyokan terhadap orang yang belum tentu bersalah. Karenanya, ia meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus ini agar tidak membias.

“Kami Minta aparatur kepolisian agar segera mengusut tuntas kasus pengeroyokan ini,” tegas alumnus kampus Bung Karno Ini.

Lebih lanjut dia mengatakan, akibat dari peristiwa ini timbul keresahan dikalangan masyarakat atas tindakan para pengemudi ojek online yang main hakim sendiri.

“‎Ini negara hukum, tidak diperbolehkan main hakim sendiri. Apalagi terjadi diawali hanya oleh praduga yang belum jelas,” pungkas Beka.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, Ketua Umum Garda NTT Wilfridus Yons Ebit mendesak agar perusahaan ojek online (ojol) grab memberi sanksi dan menertibkan drivernya yang menciptakan keonaran hingga pengeroyokan di jalanan.

“Penertiban penting, agar perusahaan jasa ojek online tidak semena-mena terhadap orang lain. Apalagi mereka merasa dalam jumlah yang banyak,” ujar Ebit melalui pesan singkat kepada media ini.

Menurut Ebit, jika suatu organisasi perusahaan yang melibatkan ribuan pekerja dilapangan, maka itu berarti potensi menciptakan keributan dilapangan sangat mungkin terjadi.

Oleh karena itu, ia menegaskan perusahaan jasa ojek online (ojol) wajib menertibkan anggotanya agar tidak terjadi kasus main hakim sendiri di masa depan.

“Jangan sampai keganasan ojol ini terus berulang dan bisa menimpa masyarat lain. Apalagi ditengah situasi pandemi ini,” tutupnya.

Posted by admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *