Ketua MPR Ajak Masyarakat Jaga Kedamaian dan Hindari Konflik

SuaraHeadline.com Jakarta – Ketua MPR RI yang baru terpilih periode 2019-2024, Bambang Soesatyo mengajak, seluruh rakyat Indonesia untuk saling menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat serta tidak melakukan anarkis yang berdampak merusak tatanan berbangsa dan bernegara. Disamping doa bagi masyarakat dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

“Kita bersama-sama mendoakan negeri tercinta agar senantiasa aman dan damai, terhindar dari konflik sosial dan tindakan anarkis yang memicu disharmoni dan penurunan kualitas generasi masa depan,” kata Bambang dalam acara Doa dan Zikir untuk negeri aman dan damai yang diselenggarakan di kediamannya, Bambang Soesatyo sekaligus Santunan Perempuan Kepala Keluarga dan Anak Yatim/Piatu
bersama KETUA MPR-RI, Selasa, (8/10/2019) di Widya Candra, Jakarta (Rumah Dinas Ketua MPR-RI).

Bambang berpesan, bahwa pentingnya untuk anak negeri agar tidak minder dan ragu melangkah meski bukan berasal dari dinasti politik, karena memiliki kesempatan yang sama untuk maju dan memegang pucuk pimpinan dan dirinya sudah membuktikan bahwa sekalipun rakyat jelata, peluang dan mimpi itu bisa diraihnya dengan kerja keras dan kerja cerdas.

“Meski kadang dalam beberapa hal tentang jalan hidup mengalir menjemput takdir. Kami sebagai Ketua MPR-RI menggaransi bahwa stabilitas politik akan menjadi tanggung jawabnya, hubungan eksekutif dan legislatif yang dinamis akan berjalan lebih bersahabat dan Presiden Jokowi dapat menjalankan fungsi eksekutif dengan sebaik-baiknya dan aman sampai akhir masa jabatan,” tutur Bambang.

Kyai Haji Zulfa yang menjadi Penceramah mengingatkan, kembali pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena modalitas para pejuang memerdekakan bangsa ini dikarenakan kegigihannya dan soliditas yang kokoh berlandaskan visi yang sama dalam meraih kemenangan.

“Selain itu, kepemimpinan yang amanah menjadi landasan utama tentang keteladanan dan sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan publik terhadap pimpinan dan kualitas kepemimpinan orang yang dimaksud,” ujar Zulfa.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara yang juga Aktivis Partai, Dina Hidayana mengatakan, acara yang diinisiasi oleh Para Kader Perempuan Partai Golkar ini dilaksanakan untuk menjadi kontemplasi tentang pentingnya nilai-nilai spiritual dalam meraih asa dan kemenangan. “Manusia wajib berikhtiar terbaik, namun Tuhan jua-lah yang menentukan warna sesungguhnya dari perjalanan hidup kita,” ujar Dina.

Dengan dihadirkannya peran Perempuan yang juga menjadi Kepala Keluarga (PEKKA) dan anak yatim/piatu untuk bersama-sama berdoa bagi negeri, bukan saja karena menyakini doa mereka yang lebih di dengar, namun sekaligus menjadi ajang bagi para politisi dan masyarakat yang sudah mapan untuk mengingatkan kembali bahwa tugas dan peran mulia dari aktivitas politik yang utama adalah menciptakan masyarakat adil makmur dan sejahtera.

Kaum yang terpinggirkan dan tidak terperhatikan, hak-nya sebagai individi dan warga masyarakat, seperti halnya Perempuan Kepala Keluarga yang bukan dilindungi oleh negara dan masyarakat, tapi justru sering mendapat perlakuan buruk, pandangan miring dimana cibiran serta, stereotype negatif dari masyarakat awam karena statusnya.
Negara harus hadir mengatasi penderitaan rakyat.

“Anak yatim, adalah satu dari sekian generasi penerus bangsa yang dipundaknya pula masa depan negeri ini dipertaruhkan. Kewajiban negara dan masyarakat untuk bersama-sama mengawal yang lemah untuk menjadi kuat, melindungi mereka dari kekerasan dalam bentuk apapun,” ungkap Dina.

Dina menjelaskan, bahwa Undang-Undang atau Peraturan bukan dibuat untuk dilanggar, tetapi untuk dilaksanakan atau disesuaikan Perempuan Kepala Keluarga adalah ibu bangsa yang perlu dilindungi oleh negara dalam kehidupan dan penghidupannya, demikian pula anak yatim/piatu yang merupakan generasi masa depan.

Ketua Umum KPPG 2014-2017, Ulla Nuchrawaty menyampaikan, bahwa peran dan Eksistensi Perempuan sangat penting dalam menentukan warna bangsa ini ke depan. “Tanpa pelibatan perempuan di sektor-sektor strategsi justru akan semakin mengerdilkan arti penting mainstreamimg gender,” tukasnya.

Posted by admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *