
Suara Headline – Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) memperingati Hari Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Sedunia dan Hari Hipertensi Pulmonal 2025 dengan menyerukan pentingnya deteksi dini, peningkatan kewaspadaan masyarakat, dan penguatan akses layanan kesehatan paru di seluruh Indonesia.
Dua penyakit kronis ini dinilai semakin mengancam kesehatan masyarakat dan sering terlambat terdiagnosis.
Sekretaris Jenderal PDPI, Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani Sp.P(K), M.Biomed, dalam sambutannya secara virtual menyampaikan bahwa peringatan dua momentum global ini menjadi pengingat betapa berharganya kemampuan bernapas yang sering dianggap remeh.
“Bernapas adalah karunia Tuhan yang luar biasa. Ketika sakit, barulah kita menyadari betapa berharganya nikmat tersebut,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa PPOK dan hipertensi pulmonal bukan sekadar diagnosis, melainkan ancaman nyata. PPOK masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia, sementara di Indonesia angkanya meningkat seiring tingginya jumlah perokok, polusi udara, dan terbatasnya akses diagnostik. Hipertensi pulmonal juga masih sering terlambat dikenali karena gejalanya tidak spesifik.
Anna juga menjelaskan bahwa PDPI berkomitmen memperkuat tiga agenda utama:
1. Pencegahan, termasuk kampanye antirokok, edukasi kualitas udara, serta peningkatan kewaspadaan terhadap gejala gangguan paru dan sirkulasi pulmonal.
2. Deteksi dini dan diagnosis tepat, melalui perluasan akses pemeriksaan seperti spirometri, penyederhanaan alur rujukan, dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.
3. Tatalaksana standar dan berkeadilan, termasuk penguatan rehabilitasi paru dan penyediaan obat-obatan secara merata melalui jejaring layanan dari pusat hingga daerah.
“Keberhasilan pengendalian PPOK dan hipertensi pulmonal memerlukan kolaborasi lintas sektoral antara dokter spesialis, pemerintah, fasilitas kesehatan, akademisi, industri, hingga media sebagai jembatan komunikasi kepada masyarakat,” tegas Anna.
PPOK, Pembunuh Sunyi yang Masih Diabaikan
Ketua Pokja Penyakit Saluran Napas PDPI, dr. Ratnawati, MCH, Sp.P(K), Ph.D, menjelaskan bahwa tema global Hari PPOK Sedunia tahun ini adalah “Sesak Napas, Pikirkan PPOK”. Ia mengingatkan bahwa sesak napas yang sering dianggap wajar karena usia atau kelelahan justru dapat menjadi tanda awal PPOK.
“PPOK merupakan penyebab kematian ketiga tertinggi di dunia. WHO melaporkan 3,23 juta kematian pada tahun 2019, dan hampir 90% terjadi pada usia di bawah 70 tahun,” jelasnya.
Di Indonesia, prevalensi PPOK saat ini diperkirakan mencapai 5,6%, dengan dampak signifikan pada kualitas hidup seperti batuk kronis, penurunan produktivitas, hingga kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari.