Parwa Institute Mengadakan Biotik Session Bertema Urgensi Kepemimpinan Transformatif Menuju Pemilu 2024

SuaraHeadline.com Jakarta – Bertempat di Kopi Deo, Tebet Jakarta Selatan (23/2/2022) Parwa Institute mengadakan Biotik Sessions (Februari Edition) dengan tema “Urgensi Kepemimpinan Transformatif Menuju : Pemilu 2024” dengan tetap menjalankan Protokol Kesehatan 5 M sesuai anjuran Pemerintah Pusat baik lewat Offline maupun Online (Youtube Parwa Institute).

Memasuki menjelang Pemilu 2024 saat ini, Parwa Intitute mengangedakan Seminar Session tersebut, dihadirkan narasumber yang ahli bidang politik dalam Penyampaian terkait Pemilu 2024, yaitu :

1. Didik Mukrianto (Anggota DPR RI Fraksi Demokrat)
2. Andre Vincent Wenas (Jubir DPP PSI)
3. Ratu Ratna Damayani (Ketua Bidang Jaringan dan Kerjasama Lembaga DPN Partai Gelora Indonesia)
4. M. Jusrianto (Direktur Eksekutif Parwa Institute)
5. Agnia Addini (Direktur Research Parwa Institute)

Di tengah gelombang ketiga pandemi Covid-19 dan transformasi sosial ekonomi, dunia dihadapkan pada situasi yang penuh ketidakpastian, termasuk di Indonesia. Pentingnya para pemimpin nasional mendatang khususnya menggunakan momentum Pilpres 2024 semakin memahami dan menjalankan visi dan model kepemimpinan Pancasila secara konsisten dan integratif, yakni pemimpin yang berbasis pada spiritualitas kebangsaan yang termanifestasikan dari sila pertama. Seorang pemimpin dengan nilai spiritualitas vertikal akan memberikan kekuatan besar untuk mewujudkan bangsa, negara dan masyarakat yang memiliki ‘virtue’ dan karakter yang kokoh.

Di tengah ingar-bingar pemanasan politik tahun ini, kita perlu kembali ke pangkal: menata ulang model koalisi politik di dengan mendorong koalisi dini yang lebih produktif dan sehat berdasarkan kesamaan ide dan platform.

Di tengah riuh rendah pemanasan politik menjelang Pemilu 2024, kita perlu memikirkan format dan skenario baru pola koalisi antarpartai. Koalisi politik selama ini cenderung tak punya pijakan platform politik yang sama dan dilakukan terburu-buru menjelang pendaftaran calon. Padahal, untuk membuat perencanaan politik jangka panjang, dibutuhkan platform bersama antarpartai untuk berinteraksi sebelum masa pemilihan. Salah satu caranya dengan membentuk koalisi dini pilpres.

Jika mengacu pada rencana jadwal pemilu yang diusulkan oleh KPU, pendaftaran capres memang baru akan dilakukan pertengahan September tahun depan. Namun, pemanasan politik sudah dimulai. Hal itu tampak dari safari politik para kandidat presiden dan bermunculannya prediksi dan tren elektabilitas calon presiden yang terekam dari banyak publikasi hasil survei opini publik.

Dalam session ini ada kekhususan yang mendalami kepemiluan dan partai politik, menilai jika integritas penyelenggara pemilu itu harga mati, tidak dapat ditawar-tawar lagi dan aspek lain yang sama pentingnya adalah penyelenggara pemilu perlu memiliki kompetensi, harus independen, dan memiliki karakter kepemimpinan.

Kepemimpinan yang mampu menyatukan, merangkul seluruh golongan di Indonesia secara inklusif dari berbagai suku bangsa, budaya, agama, politik, kelas sosial, desa-kota, tua-muda. Kohesi, kolaborasi dan persatuan ini, membutuhkan mekanisme, organisasi dan demokrasi, sebuah permusyawaratan perwakilan. “Namun demokrasi tanpa dibarengi dengan hikmat kebijaksanaan hanya akan mengantarkan negara dan bangsa pada situasi yang buruk, terjadi kesenjangan dan manipulasi terhadap rakyat. Ini gongnya, di tengah era transformasi, digitalisasi dan demografi anak muda saat ini, Indonesia butuh kepemimpinan ke depan yang mampu menunjukkan kualitas dan konsistensi model kepemimpinan Pancasila demi terwujudnya negara yang guyub, aman, sejahtera dan demokratis.

Posted by admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *