
SuaraHeadline.com Jakarta – Menghadapi usia emas ditahun 2045. Ditahun itu, Indonesia genap berumur 100 tahun alias satu abad. Di saat itu, ditargetkan Indonesia sudah ditargetkan jdi negara maju dan setara dengan negara adidaya. Kesempatan bersejarah tersebut sungguh masih mengenai seperempat abad lagi. Namun untuk mengabulkan butuh persiapan yang lama sejak jauh-jauh hari. SDM (Sumber Daya Manusia Indonesia) harus menjadi yang terbaik, berkualitas, dan memiliki karakter.
Rektor Sampoerna University Dr. Wahdi Yudhi menyatakan bahwa Sampoerna University merupakan satu-satunya universitas di Indonesia yang menawarkan kurikulum
berstandarkan pendidikan di Amerika.
“Dengan standar nasional dan internasional,
Sampoerna University berkomitmen untuk selalu memberikan kontribusi substantif kepada masyarakat Indonesia melalui pendidikan. Hal ini selaras dengan misi kami untuk mendorong akselerasi pengembangan pemimpin masa depan Indonesia yang siap
berkompetisi di kancah global,” jelas Wahdi Yudhi.
Menerapkan kurikulum internasional turut dinikmati oleh Andhika Sudarman selaku Founder & CEO Dell Jobs dan SejutaCita yang sukses meraih penghargaan khusus dari Dekan di universitas Ivy League di Amerika pada tahun 2020, Dan menjadi orang Indonesia pertama yang meraih pidato kelulusan di kampus tersebut.
“Kurikulum Indonesia pastinya merupakan bekal bagi saya, tetapi kurikulum internasional menekankan saya untuk menjalankan sekaligus memperdalam perspektif global saya. Saat ini adalah era di mana kita sulit jika mau mencoba hal baru. Karena orang-orang luar terus bergerak maju. Kesempatan saya belajar di luar negeri memberikan saya kesempatan tersebut. membuka network secara global, memperluas perspektif mereka, step belajarnya juga beda, dengan pengertian yang lebih intensif.
Membuat Indonesia Emas 2045, Indonesia masih memiliki masalah besar terkait kualitas sumber daya manusia (SDM). menurut World Bank tahun 2020, Human Capital Index (Indeks Sumber Daya Manusia) Indonesia menempati peringkat 87 dari 174 negara dengan nilai HCI (Human Capital Index) 0,54, yang notabene masih tertinggal dari beberapa negara di Asia Tenggara.
Dilansir dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, generasi yang akan mengabulkan Indonesia Emas ialah generasi muda, terkhusus yang saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Dia menjelaskan, para mahasiswa/mahasiswi dan lulusan universitas tingkatan sarjana saat ini rata-rata berusia 20 tahun. Menurutnya, saat Indonesia berusia 100 tahun yaitu 2045, mereka masih berusia 40 tahun ke atas, pada saat itu merupakan usia ujung karir bagi profesional.
“Berarti, Indonesia Emas itu ialah milik kita semua, tidak milik saya. Bukan milik mereka yang pada saat ini usianya di atas 50 tahun,” ujar Muhadjir saat mengutarakan sambutan pada Wisuda Ke-105 Periode III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), di UMM Dome Malang, pada Kamis (6/10/2022).
Kemudian, Muhadjir yang pada saat ini juga merupakan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM menyampaikan bahwa para generasi muda yang sekarang ini tengah menjalani pendidikan di UMM merupakan pejuang masa depan Indonesia di usia 100 tahun. Oleh sebab itu, dia mengusulkan kepada lulusan UMM untuk menjadi bibit unggul alumni yang memiliki keunggulan, memiliki potensi yang bagus, mental yang kuat, pekerja keras,iman yang bagus, dan akhlakul karimah.
Dia berpendapat, generasi muda sekarang ini adalah sumber daya manusia Indonesia yang
bisa merubah dan menjanjikan kemajuan Indonesia di masa depan. Oleh karena itu,
Muhadjir menyebut agar generasi muda saat ini untuk menjadi pekerja keras, bangun mimpi besar, berusaha keras demi diri kalian sendiri dan demi Indonesia.
“Untuk mahasiswa lulusan saat ini yang belum berusaha keras,kerja keras untuk meraih prestasi, tenang saja karena masih ada kesempatan untuk membenahi dirinya kembali mengasah kapasitasnya sesudah dari UMM,” ujar dia.
“Saya berharap kepada mahasiswa untuk mewujudkan mimpi besar wakil sesudah lulus dari UMM. Jangan lupa, lulus dari sini adalah cita-cita kalian. Saat ini tugas kalian adalah untuk mewujudkan impian yang lebih besar di hari esok. Saya doakan kepada mahasiswa semua agar bisa berhasil membangun mimpi besar dan menjadi realita besar di masa depan kalian,” tuturnya.
Dia juga memberitahu kepada para lulusan UMM untuk menghadapi tantangan krisis global. Sekarang ini ada 3 krisis yang dihadapi dunia, yaitu krisis Sumber Daya Alam (SDM), krisis bahan pokok, dan krisis inflasi. Oleh karena itu, dia menyarankan supaya para generasi muda untuk menyiapkan dengan seluruh potensi dan kompetensi yang dimiliki serta peka terhadap krisis.
“Negara kita belum merasakan itu, tapi kita tidak boleh menganggap sepele tentang krisis global yang sekarang ini. Semoga lulusan UMM bisa menghadapi global terhadap 3 krisis itu,” tuturnya.
Beberapa pakar berpendapat potensi yang harus dimiliki untuk mampu bersaing, adalah
berkomunikasi, kemampuan bekerjasama, berpikir kritis dan menyelesaikan masalah, dan memiliki kreativitas dan berinovasi. Sekelompok orang yang unggul dan memiliki keterampilan tersebut, harus dipersiapkan dengan metode pembelajaran sehari-hari di sekolah.
Pada awal Oktober 2019 lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mempersiapkan program digitalisasi sekolah sebagai upaya untuk mempersiapkan SDM menghadapi revolusi industri 4.0. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy berkata program digitalisasi sekolah ialah terobosan terbaru di dunia pendidikan dengan mengandalkan perkembangan teknologi informasi dan l komunikasi (TIK) dalam berbagai aspek pembelajaran. program ini, diluncurkan pertama kali di Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau, Rabu 18 September 2019. Pada saat itu Kemendikbud juga membantu kepada daerah-daerah yang Generasi Indonesia Harus Siap Berdaya Saing Global termasuk didalam ketegori terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Maka dari itu langkah afirmasi untuk memperkecil kesenjangan dengan daerah-daerah lain yang lebih maju.
Digitalisasi Sekolah adalah implementasi dari metode pembelajaran baru atau new learning, yang dibuat untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Karakteristik pembelajaran baru berpusat pada siswa, yang menggunakan multimedia, mengedepankan pekerjaan kolaboratif, pertukaran informasi, dan mendorong pemikiran kritis dan pemecahan masalah Siswa bukan hanya belajar dengan cara-cara konvensional dengan mendengarkan masukan dari guru dan memperluas wawasan dengan membaca buku pelajaran saja.
Adapun mereka diberi tugas untuk mengumpulkan informasi-informasi yang relevan, bermusyawarah dengan teman, dan menyelesaikan masalah dari persoalan yang dihadapi serta mempresentasikannya.