Ketua Umum Kowani Memberikan Sikap Terhadap Puisi Sukmawati

IMG-20180403-WA0064_crop_390x310

Suaraheadline.com Jakarta – Hari ini Puisi Sukmawati Soekarnoputri yang di dalamnya menyinggung tentang adzan dan cadar menjadi kontroversi. Puisi yang berjudul ‘Ibu Indonesia’ itu menuai polemik dimana – mana.

Ketua Umum Kowani Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd memberikan pernyataan tentang kontrovesi puisi yang dibawakan oleh Sukmawati Soekarnoputi sebagai berikut :
1. Bahwa di bumi pertiwi yang beragam ini, kita harus dapat menjaga dan menghargai keragaman, termasuk yang dapat menyinggung keyakinan beragama.

2. Bicara perempuan, tidak hanya bicara sanggul. Perempuan cantik, tidak hanya cantik penampilan, tapi juga cantik batin (hati, kecerdasan, wawasan, akhlaq), lebih-lebih kowani yang mendapat mandat sebagai “Ibu Bangsa” yang merupakan hasil keputusan Kongres Perempuan ke II tahun 1935. Dimana kewajiban perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa yang berarti berusaha membina pertumbuhan generasi penerus yang lebih sadar akan kebangsaannya.

3. Sudah menjadi aturan di KUHP, bahwa kita semua dilarang untuk bicara yang menyinggung SARA, demi keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia.

4. Kita prihatin karena isu SARA sepertinya tak pernah mati. Ada saja pihak yang menggunakan isu SARA sebagai “senjata” untuk meraih tujuan. Entah itu tujuan politik atau ekonomi. Bak komoditas yang laris manis, isu SARA selalu saja diproduksi dan direproduksi meski rambu regulasi sudah banyak diterbitkan di Indonesia.

5. Sebenarnya nama Ibu Indonesia , adalah suatu hal yang mulia, yang pada tahun 1935 hasil keptusan kongres , bahwa wanita Indonesia wajib menjadi ibu bangsa, jadi bukan untuk urusan konde dan sebagainya, tetapi tugas sebagai Ibu Bangsa adalah sangat berat, vital dan namun sangat mulia karena harus mempersiapkan sebuah generasi yang sehat jasmani dan rohani, jujur, rajin, berkarakter, cakap, pintar, berpengetahuan, tahan uji, kreatif, inovatif, unggul dan berdaya saing, berwawasan luas dan memiliki wawasan kebangsaan yang militan tak mudah menyerah, kokoh tergoyahkan dan membanggakan.

Ibu Bangsa memegang teguh persatuan dan kesatuan oleh karenanya maka etika kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi sangat penting demi keutuhan Bangsa dan Negara Reublik Indonesia. (Rio)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.